Hukum Ohm
Hi
Kali ini saya akan membagikan materi praktikum Hukum Ohm
Semoga bermanfaat
LATAR BELAKANG
Dalam sebuah
rangkaian listrik biasanya terdapat istilah yang dikenal dengan arus listrik,
tegangan dan hambatan. Pada dasarnya sebuah rangkaian listrik terjadi ketika
sebuah penghantar mampu dialiri electron bebas secara terus menerus. Aliran
inilah yang disebut dengan arus. Sedangkan tegangan adalah beda potensial yang
ada di antara titik rangkaian listrik tersebut. Untuk menemukan hubungan di
antara istilah-istilah yang ada dalam sebuah rangkaian listrik diperlukan
sebuah praktikum yang dapat membuktikannya.
Hukum ohm merupakan
rapat arus sebanding dengan kuat medan listrik E. Fenomena listrik yang paling
penting dipandang dari segi pemakaian. Pemakaian praktisnya adalah gerakan
muatan listrik melalui zat dan hasil membangkitkan arus listrik. Unit SI untuk
arus listrik adalah ampere. Himpunan konduktor-konduktor dan sumber-sumber
medan listrik yang melalui zat-zat medan listrik yang diperlukan untuk menjaga
agar muatan-muatan bergerak melaluinya membentuk suatu rangkaian listrik.
Sebuah rangkaian
listrik dapat terjadi jika sebuah penghantar dapat dialiri dengan elektron
bebas secara terus menerus. Apabila suatu penghantar diberikan potensial yang
berbeda diantara kedua ujungnya maka dalam penghantar itu akan timbul arus
listrik. Nilai hambatan dalam rangkaian dapat dilakukan dengan cara menyusun
rangkaian listrik tersebut, selanjutnya dengan menaikkan tegangan dari tegangan
minimum sampai ketegangan maksimum secara bertahap, kemudian catat perubahan
yang terjadi pada voltmeter dan amperemeter.
Hukum ohm dalam
banyak pemakaian arus listrik yamg mengalir mempunyai harga konstan. Pada waktu
bergerak didalam logam. Pembawa muatan tidak bergerak pada satu garis lurus,
tetapi selalu bertumbukan dengan atom logam. Tumbukan terjadi perpindahan energi,
karena makin cepat gerak pembawa muatan makin banyak pula tumbukan yang dialami
tiap satuan waktu. Secara rata-rata pembawa muatan akan terus kehilangan
energy, akibat tumbukan ini pembawa muatan bergerak dengan kecepatan rata-rata
tetap dan logam menjadi panas.
Dengan melakukan
praktikum yang berjudul Hukum Ohm ini kita dapat mengetahui dan mempelajari
hubungan antara tegangan dan kuat arus pada suatu rangkaian dan dapat digunakan
untuk mengetahui sebuah hambatan listrik tanpa harus menggunakan alat yang
dinamakan ohmmeter. Selain itu materi tentang hukum ohm ini sangat berguna
khususnya yang mendalami kelistrikan. Karena dengan adanya hukum ohm kita dapat
mengerti tentang kelistrikan. Untuk itu kita harus mempelajari lebih dalam
tentang Hukum Ohm dengan cara mempraktekkannya dalam percobaan ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Hukum ohm dapat
diterapkan dalam rangkaian tahanan seri. Yang di maksud dengan rangkaian
tahanan seri adalah tahanan di hubungkan ujung tahanan yang ada pada rangkaian
ke ujung atau dalam suatu rantai. Untuk mencari arus yang mengalir pada
rangkaian seri dengan tahanan lebih dar satu, diperlukan jumalah total nilai
tahanan tahanan tersebut. Hal ini dapat di mengerti karena setiap tahanan yang
ada pada rangkaian seri akan memberikan hambatan bagi arus untuk mengalir (Rusdianto,
1999: 19).
Hukum ohm
menyatakan bahwa tegangan pada terminal-terminal material penghantar berbanding
lurus terhadap arus yang mengalir melalui material ini, secara matematika hal
ini dirumuskan sebagai V = I R, dimana konstan proporsionalitas atau
kesebandinagn R disebut resistansi. Satuan untuk resistansi adalah ohm, dan
bisa disingkat dengan huruf besar omega, Ω (Durbin, 2005 : 22).
Salah satu hukum
fisika yang mungkin paling dikenal oleh para mahasiswa adalah hukum ohm, yang
menyatakan bahwa untuk suatu konduktor logam pada suhu konstan, perbandingan
antara perbedaan antara perbedaan potensial ∆V antara dua titik dari konduktor
dengan arus listrik I yang melaui konduktor tersebut adalah konstan. Konstan
ini disebut tahanan listrik R dari konduktor antara dua titik. Jadi hukum ohm
bisa dinyatakan sebagai ∆V = R atau I = ∆V. Dari
persamaan kelihatan bahwa R dinyatakan dalam satuan SI sebagai volt ampere atau
m2 kg s-1 C-2 , dan disebut ohm (Ω). Jadi satu ohm adalah tahanan
suatu konduktor yang dilewati arus satu ampere ketika perbedaan potensialnya
dijaga satu volt diujung-ujung konduktor tersebut (Alonso, 1992 : 76)
Hukum ini
diformulasikan oleh ahli fisika Jerman, George Ohm (1787-1854), ternyata
berlaku dengan ketelitian yang mencengangkan terhadap konduktor pada cakupan
harga ∆V, I dan suhu yang luas . Prinsip Ohm ini adalah besarnya arus listrik
yang mengalir melalui sebuah penghantar metal pada rangkain, Ohm menentukan
sebuah persamaan yang simple menjelaskan hubungan antara tegangan, arus dan
hambatan yang saling hubungan. Tetapi beberapa zat terutama semi-konduktor ,
tidak mengikuti hukum Ohm (Alonso, 1979:76)
Dari persamaan yang
di atas, kelihatan sekali bahwa R (hambatan) dinyatakan dalam satuan SI sebagai
Volt/ampere atau m2kg s-1C-2 dan disebut Ohm (Ω). Jadi satu Ohm adalah
tahanan suatu konduktor yang dilewati arus satu ampere ketika perbedaan
potensialnya dijaga satu volt di ujung-ujung konduktor tersebut. Arus
dinyatakan dengan Ampere, bersimbol I. Tegangan dinyatakan dengan volt,
bersimbol V atau E (Alonso, 1979: 77).
Banyak fisikawan
yang akan mengatakan bahwa ini bukan merupakan hukum, tetapi lebih
berupa definisi hambatan. Jika kita ingin menyebut sesuatu sebagai hukum
Ohm, hal tersebut akan berupa pernyataan bahwa arus yang melalui konduktor
logam sebanding dengan tegangan. Dengan demikian ”hukum Ohm” bukan
merupakan hukum dasar, tetapi lebih berupa deskripsi mengenai kelas bahan
(konduktor logam) tertentu. (Giancolli, 2001 : 67)
Catu daya (power
supply) merupakan suatu rangkaian dengan keluaran tunggal dan juga dapat
digunakan sebagai perangkat yang masuk energi listrik untuk satu atau lebih
beban listrik. Pada percobaan pembebanan catu daya menggunakan hukum ohm,
semulanya terdiri atas dua bagian. Bagian pertama tidak lain iyalah defenisi
hambatan, yakni I=V/R. Hubungan ini dinamakan hukum ohm ( Bueche, 1989
: 213).
DAFTAR PUSTAKA
Alonso, Marcelo, Finn, Edward. 1979. Dasar-dasar
Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga.
Bueche, Frederick
J. 1989. Fisika Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Durbin, Andrew J. 2005. Rangkaian Listrik.
Jakarta: Erlangga.
Giacolli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Rusdianto, Eduard. 1999. Penerapan Konsep
Dasar Listrik dan Elektronika. Yogyakarta: Kanisius.
Komentar
Posting Komentar